MALAM PENYAIR
Senja bergilir
gunda
Kelam bayangan
nyata
Gurindam
bercerita ria
Pintalan kata
telah bersua
Hening
bersandarkan suara duka
Riuh
bersandarkan nisan pelita
Mencari liang
penantian
Kumpulkan derma
yang terkaitkan
Gelendong- gelendong
sukma telah hadir
Ciptakan
prasasti zaman
Tak terbaca tak
berkata nyata
Sisipkan duka
cita,simpulkan prasetya
BUNGA JIWA
Terbesit angan
melayang
Menganga katup
penggerak
Gila jiwa telah
tersandang
Singgahan muka
masam terkuak
Cucuran peluh
telah berparit
Ukirlah payah
wahai durjana
Bersemi,berkembang,mekaran
Buah tangan
telah digenggam
Hasil beban
telah dirasa
Sia tak halangi
asa
Berjalan sekesit
cahaya
Sampaikan
sebongkah keharuman jiwa
Untuk hidup
perlihatkan warna
HIDUP
Hidup itu
rumit,Hidup itu pelit
Kita rasa
indah,Kita rasa susah
Hompimpa
hidupku,Tepat jalanku
Hompimpa matiku,Lepas
nyawaku
Hidup itu harus
disyukuri
Sebab itu nikmat
ilahi
Hidup itu harus
dijalani
Dengan iman dan
ihsan sejati
SUARA HATI
Songketan- songketan
halus rata
Merayap pada
setiap otot jantung
Benang emas
,benang racun
Tersusun rapi
disetiap bagiannya
Memberi bisikan
pada setiap detak
Selembut angin
surga adna
Atau memekakan
telinga
Senyaring
jeritan penghuni neraka
Isyaratkan
pemilik badan
Pada kebaikan
dan kebathilan
Suara hati yang
selalu meragukan
Hanya
menyakinkan pemeluk iman
GALAU
Kelampauan salah
isak tangis
Kesalahan
pendusta bertepuk manis
Masih adakah
kegalauan sukma
Masih tersisakah
ketakutan jiwa
Jika memang
desiran ketakutan ini dikorbankan
Akankah langit
berubah terang
Jika memang
wajah merah ini dipersembahkan
Akankah hati
kembali tenang
Tak ada yang
mampu
Hanya merangkak
Menunduk
Bersujud
Dan terbujur
kaku…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar